Aku mengingatnya.
Aku mengingat tubuh besar
dan langkah kakinya.
Aku mengingat bagaimana
aku tidak menyadari tinggi badannya yang terus bertambah.
Aku mengingat setiap nada
yang ia mainkan saat jam istirahat.
Aku mengingat setiap petikan
oleh jari-jarinya yang gemetar di atas senar yang melintang.
Aku mengingat jari-jari
yang seakan menari di atas piano hitam-putih.
Aku mengingat setiap
pejaman sebelah matanya menjelang akhir lagu yang ia mainkan.
Aku mengingat senyumnya
yang hangat, setiap aku datang meminta bantuan.
Aku mengingat tawanya yang
gembira, diikuti matanya yang menyipit, setiap ada hal konyol.
Aku mengingat wajah
seriusnya di saat ia berpikir.
Aku mengingat bagaimana ia
selalu membuatku tersenyum di setiap kehadirannya.
Aku mengingat perkataannya
yang membuatku tertawa.
Aku mengingat
cerita-cerita sedihnya yang membuatku terdiam.
Aku mengingat matanya yang
seringkali melongo, melamun ke samping,
Aku mengingat bagaimana
aku selalu bertanya-tanya, apa yang sedang ia pikirkan.
Aku mengingat sepasang
sepatu putihnya, yang selalu ia pakai.
Aku mengingat bagaimana
sepatu itu berubah usang setiap harinya.
Dan aku mengingat
bagaimana aku benci melihatnya memakai sepatu lain.
Dan kemudian, aku
mengingat bagaimana akhirnya sepatu itu digantikan juga.
Tapi aku juga mengingat
seberapa patah hatinya.
Seberapa lama ia menunggu
untuk orang itu,
Seberapa lama ia pendam
perasaannya,
Seberapa lama ia
sembunyikan itu semua,
Seberapa lama ia tersenyum
untuk menutupinya.
Atau kemudian, seiring
waktu berjalan,
Aku mengingat seberapa
lama mereka tertawa bersama,
Seberapa lama senyum
aslinya bertahan,
Seberapa lama semuanya
terasa indah,
Dan seberapa cepat waktu
merenggut itu semua.
Aku tidak peduli kapan
kisah ini akan berakhir,
Aku pun tidak tahu
bagaimana kisah ini berawal.
Aku tidak akan membiarkan
ia tahu,
Aku tidak akan pula
melakukan apa-apa.
Jika ada orang yang
bertanya,
Jika datang waktunya
padaku untuk menjawab,
Aku akan menjawab,
“Aku mengingatnya.”